Sinopsis Novel Sherlock Holmes A Study In Scarlet


Sinopsis a study in scarlet

Judul: Sherlock holmes a study in scarlet

Pengarang: Arthur Conan Doyle

Genre: Misteri

Pada Tahun 1878 Watson mendapat gelar dokter umun dari Universitas London, dan melanjutkan ke Netley untuk mengikuti pendidikan ahli bedah khusus Angkatan Darat. Setelah menyelesaikan pendidikan Watson dimasukkan dalam Resimen Northumberland Fusiliers kelima sebagai asisten bedah. Namun sebelum bergabung dalam Resimen, perang Afghanistan kedua meletus. Perang Afghanistan mendatangkan kesialan dan bencana bagi Watson. Watson tertembak dalam pertempuran itu. Ia diselamatkan oleh Murray, jasa mentrinya. Pemuda itu membawa Watson di atas punggung kuda sampai ke wilayah Inggris.

Karena merasa lelah akan penderitaan akibat rasa sakit, Watson dibebastugaskan dan karena kondisi Watson yang lemah dokter memutuskan untuk memulangkannya ke Inggris.

Watson tidak memiliki kerabat di Inggris dan ia hidup menganggur. Karena keaadannya yang seperti itu Watson tertarik untuk pergi ke London, dimana tempat berkumpulnya para pemalas dan penganggur. Selama tinggal di sebuah hotel Watson ia merasa hidupnya sangat boros dan ia memutuskan untuk meninggalkan hotel dan mencari tempat tinggal lain.

Watson bertemu dengan Stamford, mantri yang bertugas memerbankan luka di bawah pengawasannya di Rumah Sakit Barts. Mereka saling menyapa dan berbincang mengenai keadaan mereka, sampai saat Watson menceritakan keadaanya yang sedang mencari tempat tinggal tetapi tidak memakan banyak biaya. Mendengar keadaan Watson, Stamford menceritakan rekan kerjanya di Laboratorium kimia di rumah sakit, bahwa rekannya menemukan apartemen yang nyaman, namun biaya sewanya terlalu tinggi bila ditanggung sendiri sehingga ia sedang mencari teman untuk tinggal bersama dan berbagi dengannya.

“kebetulan sekali!” kata Watson. Watson menyatakan bahwa ia lebih suka tinggal bersama daripada tinggal sendiri. Namun Stamford memandang Watson dengan ekspresi agak aneh, “kau belum mengenal Sherlock Holmes” katanya. “Mungkin kau tidak ingin ditemani dirinya setiap saat”. Watson yang kebingungan pun bertanya. Stamford mengatakan bahwa Sherlock Holmes merupakan orang yang baik namun ia memiliki gagasan yang aneh, cara belajarnya aneh ia tidak pernah menempuh pendidikan medis namun ia dapat membuat para professor terpukau, Watson tetap ingin bertemu dengannya karena menurutnya ia lebih suka berbagi tempat tinggal dengan orang yang suka belajar dari pada orang yang berisik. Stamford pun mengantar Watson ke Laboratorium tempat Holmes bekerja.

Setelah sampai di laboratorium melihat satu orang yang tengah membungkuk di meja seakan tenggelam dalam pekerjaannya. Mendengar suara langkah Watson dan Stamford, orang itu berpaling , dan menegakkan tubuh sambil berteriak gembira.

Setelah perkenalan mereka, mereka pun setuju untuk berbagi tempat tinggal. Impresi Watson kepada Holmes ia merasa Holmes adalah sosok yang misterius yang memiliki pekerjaan utama yaitu sebagai detekif konsultan, Holmes pernah mengatakan bahwa dia menggunakan pengamatan dan deduksi untuk mencari nafkah, Watson merasa hanya dengan deduksi itu mustahil, bagi orang awam akan mengatakan itu sebagai paranormal. Tetapi Holmes sangat jenius dan ia bisa menyelesaikan pekerjaan hanya dengan deduksi

Petualangan dimulai saat Holmes mendapa surat. Surat tersebut dari seorang detektif terkenal di London, Gregson. Bahwa ada kejadian aneh semalam di Lauriston Garden No.3 ditemukan mayat seorang pria di sebuah rumah kosong, tepatnya di ruang makan. Di ruang tersebut terdapat noda darah tetapi tidak ada bekas luka pada pria tersebut dan juga tidak ada tanda-tanda perampokan. Gregson meminta bantuan Sherlock Holmes untuk datang ke TKP.

Surat ini mengerikan, Namun Holmes tetap tenang membaca surat tersebut, dan Holmes memutuskan untuk pergi ke tempat bersama dengan Watson. Sebelum berangkat Holmes sudah mengirim pesan untuk Gregson untuk tidak mengacak-acak tempat TKP. Cuaca pagi itu berkabut dan berawan, atap-atap rumah diselubungi kabut tebal berwarna cokelat lumpur seperti jalanan di bawahnya.

Sesampainya di tempat TKP, tempat itu adalah rumah kosong yang sudah tidak berpenghuni. Mereka masuk kedalam rumah tersebut. Sesampainya di ruang tempat TKP terdapat sosok mayat yang terlentang di lantai papan. Tidak ada luka pada tubuh pria tersebut tetapi di ruangan itu terdapat darah. Holmes berasumsi bahwa darah itu adalah darah milik orang kedua bisa dibilang pembunuhnya. Holmes mulai meraba-raba mayat itu dan memeriksannya. Dirasa sudah selesai memeriksa Holmes memperbolehkan mayat itu dibawa keluar, tetapi saat mayat itu diangkat jatuh sebuah cincin seperti cincin pernikahan wanita.

Holmes menanyakan apa yang sudah ditemuka di saku mayat tersebut kepada detektif polisi tersebut, dan didapatinya Arloji emas No. 97163, buatan Barraud, London. Rantai emas buatan Alber, Cincin emas, penjepit emas berkepala bull-dog dengan mata batu rubi, tempat kartu nama buatan Rusia, dengan kartu-kartu nama Enoch J. Drebber dari Cleveland, dompet berisi uang sebanyak tujuh pound tiga belas penny. Buku saku Decamero Boccacio dengan nama Joseph Strangerson da dua surat yag ditujukan pada E.J Drebber dan satu lagi kepada Joseph Strangerson.

Lestrade menyalakan korek api dan mengacungkan pada dinding yang bertuliskan ‘RACHE’ lestrade meyimpulkan bahwa RACHE adalah sebuah nama perempuan yaitu Rachel. Tetapi kesimpulan tidak masuk akal.

Holmes berasumsi bahwa pria iu dibunuh dengan menggunakan racun, dan Holmes mengatakan bahwa kata ‘RACHE’ adalah kata jerman untuk pembalasan.

Diketahui bahwa Enoch J. Drebber bukanlah orang London, ia datang dengan Joseph Strangerson namun ia tidak terdapat di TKP.

Holmes dan Watson pergi ke tempat polisi yang berjaga pada saat kejadian itu, ia mengatakan bahwa merasa ada yang aneh pada rumah kosong itu dan mencoba unuk memeriksanya, saat sampai di pagar depan ia melihaat pria mabuk di gerbang pagar tersebut, karena merasa ia hanya seorang pria mabuk polisi itu membiarkan pria tersebut dan masuk ke dalam rumah dan mendapati seorang mayat di rumah tersebut. Mendengar hal itu Holmes mengatakan bahwa pria mabuk itulah yang dicurigakan, pria tersebut pasti hanya pura-pura mabuk agak tak dicurigai.

Holmes memasang iklan cincin yang hilang. Seseorang datang untuk mengambilnya, ia naik kereta kuda. Holmes mengikutinya tetapi setelah sampai tujuannya orang itu sudah menghilang.

Keesokan harinya Lestrade membawa berita tentang terbunuhnya Joseph Strangerson, di sebuah hotel. Di dinding tempat Strangerson tewas juga terdapat tulisan ‘RACHE’ dengan menggunakan darah. Di sana juga ditemukan dua pil yang mirip yang dimana salah satu pil tersebut berisi racun.

Holmes sudah mengetahui pembunuhnya tetapi ia membutuhkan bantuan anak jalanan London untuk menangkap pembunuh tersebut. Mereka datang memanggil sebuah kusir kereta dan meminta kusir tersebut membawa barang ke apartemen Holmes. Saat kusir tersebut tiba Holmes langsung memborgol kedua tangan kusir tersebut, kusir tersebutlah pelakunya bernama Jefferson Hope.

Dua pil mirip yang ditemukan tersebut adalah alat yang digunakan oleh Hope untuk membunuh Drebber dan Strangerson. Mereka di paksa memilih dan meminum salah satu pil dan satu pil lainnya akan diminum oleh Hope yang diantara pil tersebut berisi racun.

Novel Sherlock Holmes karya Arthur Conan Doyle ini menurut saya sangat menarik dari segi alur sampai cara penyelesaian masalah dalam novel ini sangat unik. Alurnya tidak mudah ditebak. 

Novel ini dapat membuat saya ikut berpikir keras dengan melihat dari bukti-bukti yang sedikit untuk menemukan pelaku dari pembunuhan aneh ini. 

Novel ini cocok untuk orang-orang yang menyukai misteri dan saya merekomendasikan novel ini untuk orang-orang yang menyukai hal-hal tentang dektektif. 

Lalu bagaimana seorang kusir disebut sebagai pelakunya? Kalian akan mendapatkan jawabannya dengan membaca novel ini.


Komentar